BERKAT tubuh yang seksi, nama Keeley Hazell berhasil melejit dalam jajaran supermodel ternama. Kini, model yang peduli dengan aktivis pembela hak binatang (PETA) berpose topless untuk mengampanyekan antipemakaian bulu binatang.
Sebagai langkah mendukung PETA, model yang berhasil menjadi salah satu wanita terseksi sedunia di halaman 3 situs The Sun itu membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos tanpa balutan bra, sementara area genitalnya ditutup dengan CD hitam. Demikian seperti dikutip dari Femalefirst, Jumat (1/1/2010).
Dalam sebuah wawancara, model berusia 23 tahun itu mengaku merasa miris dengan pemakaian bulu binatang untuk keperluan fesyen. Karena itu, dia menyarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman di kulit sendiri dan membiarkan hewan tetap hidup.
"Sekali Anda mengetahui bagaimana cara untuk menghasilkan bulu binatang untuk diperjualbelikan, tidak mungkin dapat berpikir ingin memakai bulu agar tampil seksi atau glamor. Saya percaya, bahwa membunuh binatang untuk kepentingan fesyen adalah salah," tuturnya.
Di tengah padatnya jadwal sebagai modeling, presenter, penyanyi, dan mengelola agensi model sendiri, Keeley berdiri teguh dalam komitmennya untuk bebas dari bulu binatang.
"Aku sudah yakin untuk tidak akan memakai bulu binatang. Dan telah mengatakannya kepada para stylist kalau aku tidak akan menjalani pemotretan dengan bulu binatang. Itu tidak pernah jadi masalah, apalagi setelah semua orang seperti Stella McCartney dan Vivienne Westwood tidak memakai bulu binatang untuk H & M dan Topshop," paparnya.
"Aku suka untuk mendukung desainer yang mampu menciptakan pakaian modis dan populer tanpa darah di tangan mereka," lanjut Keeley.
Keeley memaparkan, untuk menghasilkan bulu binatang tersebut, sejumlah penderitaan besar dialami melalui kejahatan "halus". Bulu binatang yang berasal dari kelinci, rubah, musang, dan marmut, yang menghabiskan hidup sebagai makluk pendek, dan sengsara tinggal di tempat sempit, kandang yang kotor, sampai akhirnya dibantai, atau terjebak dan dipukuli sampai mati di alam liar.
Untuk mengambil bulu mereka, petani dan penjerat sering membunuh dengan cara yang kejam, dan dengan metode termurah yang tersedia, termasuk membuat mereka sesak napas, disetrum dengan listrik, memakai gas berbahaya, dipukul, ditenggelamkan, dan dibuat keracunan.
"Banyak hewan yang masih hidup dan merasakan sakit ketika para pekerja mulai merobek kulit dari tubuh mereka. Kucing dan anjing bulu dari China sering sengaja menaruh bulu binatang dari spesies lain, dan diekspor ke beberapa tempat tujuan di seluruh dunia, termasuk Inggris dan seluruh Eropa, untuk dijual kepada pelanggan yang tidak curiga," tandasnya.